MAN Insan Cendekia

MAN Insan Cendekia
Keberhasilan MAN Insan Cendekia Mengadopsi Keungulan Pesantren

On 11.34.00

MAN IC Aceh Timur
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia adalah lembaga pendidikan yang sejak awal telah mengambil keunggulan-keunggulan yang ada di pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Penanaman akhlaq dan nilai-nilai keislaman terintegrasi dalam proses pembelajaran.

Demikian disampaikan Joko Miranto, guru senior yang pernah menjadi kepala sekolah MAN Insan Cendekia di Gorontalo, kepada pendidikanislam.id beberapa waktu lalu.

Lalu, apa yang membedakan MAN Insan Cendekia dengan pesantren? Menurut Joko, di MAN Insan Cendekia, aspek akademik diperketat. Para gurunya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Lalu tradisi juara juga ditanamkan kepada siswa. Semua tidak berjalan begitu saja. Berbagai proses dan strategi dilakukan untuk mewujudkan semua tujuan.

Pada saat pertama didirikan tahun 1990-an, Insan Cendekia masih berada di bawah naungan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

“Saya belum seperti apa model pendidikannya. Namun yang pasti waktu itu sekolah ini akan merekrut anak pesantren supaya dapat pengetahuan sekolah umum,” kata Joko.

Semangat awal Insan Cendekia waktu itu adalah menampung anak-anak yang potensial dari pesantren. Menurut Joko, jumlah siswa  yang belajar di pesantren sangat besar, berkisar 60-70 persen dari total jumlah siswa yang belajar di seluruh Indonesia. Hampir semua pesantren merupakan inisiatif dari masyarakat dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sementara di sisi lain, pesantren diakui mempunyai banyak keunggulan.”Justru pendidikan yang terbaik adalah pesantren. Insan Cendekia sebenarnya meniru modelnya pesantren, bukan bikin sendiri. BPPT waktu itu secara khusus mempelajari kelebihan pesantren. Kemudian kelebihan itu digabungkan dengan kelebihan yang ada di sekolah umum sehingga jadilah Insan Cendekia ini,” katanya.

Keunggulan pesantren adalah keberhasilannya menanamkan sikap dan prilaku. Itu terintegrasi dalam semua aspek pembelajaran, dari mulai bangun pagi, sampai tidur kembali. Penanaman akhlak dan nilai-nilai kegamaan diajarkan secara praktis ketika berada di lingkungan pesantren. Para siswa juga tinggal di asrama sehingga fokus kepada pendidikan.

“Tapi pesantren memang kan fokusnya di situ. Untuk akademiknya memang perlu ditingkatkan. Saya juga paham karena di pesantren SDM-nya terbatas. Misal guru yang mengajar matematika asalnya bukan orang matematik. Tapi secara umum sampai sekarang yang terbaik itu sistem pesantren,” katanya.

Menurut Joko, MAN Insan Cendekia ini mengambil keunggulan pesantren itu dengan menutup kekurangannya.

Kemenag Tetapkan 90 Peserta Festival Robotik, Ini Daftarnya

On 11.15.00

Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah kembali menyelenggarakan Festival dan Kompetisi Robotik Madrasah. Lebih dari 200 tim mendaftar sejak dibukanya pendaftaran festival pada 17 -24 Oktober.

"Kuota hanya 90 orang, dengan rincian setiap jenjang pendidikan madrasah mengutus 2 orang, peserta sementara pendaftar membludak sampai 200-an peserta," kata Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan, Rabu (26/10). Peserta terdiri dari 30 peserta Madrasah Ibtidaiyah, 30 peserta Madrasah Tsnawiyah dan 30 peserta Madrasah Aliyah.

Festival kedua ini akan digelar pada 30-31 Oktober 2016 di Mall of Indonesia Jakarta Utara. M Nur Kholis Setiawan berharap semua peserta bisa bertanding dan berkompetisi secara sehat dan sportif. "Menang kalah suatu hal lumrah. Ajang robotik madrasah adalah piranti untuk mengapresiasi kreativitas siswa-siswi madrasah," katanya.

Menurut guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, ajang kompetisi didesain sebagai wadah siswa madrasah yang memiliki bakat di bidang robotika untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Selain itu, fastival ini diharapkan dapat menjadi wadah olah asah dan melatih motorik dan kreativitas siswa, serta merangsang logika berpikir dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menguasai teknologi dan bekerja secara tim.

"Kompetisi ini adalah wujud kepedulian kita pada potensi-potensi robotika yang dimiliki siswa-siswi madrasah," kata Nur Kholis.

Bagi peraih juara I, II, dan III, Kementerian Agama telah menyiapkan hadiah berupa Sertifikat, Tropi, Kit Robotika (buatan Jerman) dan uang pembinaan. Khusus juara I tingkat MTs dan MA, mereka juga akan mendapatkan hadiah perjalanan ke Jerman. Menurut M. Nur Kholis, hadiah tersebut rencananya akan diberikan langsung oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin pada malam pengumuman, 31 Oktober 2016.

Berikut ini daftar madrasah peserta Festival dan Kompetisi Robotik Madrasah 2016:

Tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI)
1. MI Anwarus Salam, Jabar; 
2. MIN Malang; 
3. MIN 2 Kota Tangsel; 
4. MIN Demangan Madiun; 
5. MIS Muhammadiyah Kalibening Dukun, Jateng;
6. MI As Salaamah, Tangsel; 
7. MI Muhammadiyah Debong Wetan, Jateng; 
8. MI Wahid Hasyim, Yogyakarta; 
9. MI Al-Muminin, Kendari Sultra; 
10. MI Asih Putra, Jabar;
11. MI Cokroaminoto 01 Badamita, Jateng; 
12. MI Muhammadiyah Al Haq Palu; 
13. MIS Internasional Techno Natura, Jabar; 
14. MI Pembangunan UIN Jakarta; dan 
15. MI YPPI 1945 Babat, Jatim.

Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs)
1. MTsN Kediri II, Jatim; 
2. MTs Surya Buana, Jatim;
3. MTsN 1 Tangerang, Banten; 
4. MTsN 2 Tangerang, Banten; 
5. MTs Maarif Munggung, Jatim;
6. MTsN Kota Pasuruan, Jatim; 
7. MTsN 4 Jakarta Selatan; 
8. MTsN 1 Kota Bandung; 
9. MTs Zainul Hasan 1, Jatim; 
10. MTsN Borobudur, Jateng;
11. MTsN 1 Yogyakarta; 
12. MTsN 2 Bogor; 
13. MTsN Tangerang Selatan; 
14. MTsN 31 Jakarta Timur; 
15. MTsN 1 Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Tingkat Madrash Aliyah (MA) 
1. MAN 3 Tangerang, Banten; 
2. MAN 2 Probolinggo, Jatim; 
3. MAN IC Aceh Timur; 
4. MAN 1 Samarinda, 
5. MAN 2 Wates, Yogyakarta;
6. MAN IC Kota Batam; 
7. MAN IC Padangpariaman; 
8. MAN Luwuk, Sulawesi; 
9. MAN IC Serpong; 
10. MAN IC Tanah Laut, Kalsel;
11. MAN IC Jambi; 
12. MAN IC Ogan Komering Ilir, Sumsel; 
13. MAN 2 Model Medan; 
14. MAN IC Kota Kendari; dan
15. MAN IC Gorontalo

Teknologi Untuk Beramal, Tak Sekedar Pengetahuan

On 11.49.00

Bagi umat Islam contoh yang paling nyata adalah Al-Qur’an. Kitab Suci bagi Muslim ini sekarang jauh lebih mudah dan nyaman dibaca dibanding mushaf Al-Qur’an yang dimiliki umat periode awal, terutama para sahabat dan tabi’iin. Kini Al-Qur’an dengan harakat, tanda baca, bahkan keterangan tajwidnya disertakan untuk mempermudah membacanya.

Padahal dulu Al-Qur’an tanpa harakat, bahkan tanpa titik, yang tentu tanpa belajar sungguh-sungguh akan sulitlah hanya untuk sekedar mampu membacanya. Demikian pula buku-buku, dari ilmu fikih, hadist, tasfir, dan lain sebagainya, segala ilmu, begitu mudah kita peroleh di toko-toko buku dan perpustakaan.

Kehadiran internet, DVD, dan alat-alat elektronik lainnya telah memberi jalan super cepat bagi kita semua untuk belajar tentang Islam. Belum lagi acara televisi dari subuh, setiap hari, pasti ada siraman rohani yang dapat kita nikmati di mana saja. Tinggal pencet remot, tittt, maka acara keagamaan bisa kita saksikan dengan beragam pilihan.

Kami yakin, sebagian besar dari kita sudah belajar dengan aneka media yang menghampar begitu banyaknya. Lewat handphone yang kita pegang, berbagai aplikasi, data, dan layanan memberi kemudahan kita setiap saat untuk belajar memperdalam ilmu agama kita.

Dengan berbagai kemudahan belajar itu sudah sewajarnya jika era kita sekarang lebih pintar, lebih berpengetahuan, dan lebih beradab dibanding era-era sebelumnya. Tak salah jika ada yang mengatakan, satu edisi koran Kompas harian, isinya jauh lebih banyak dari apa yang dipelajari oleh manusia awam abad 16 dan 17. Bayangkan, itu baru satu hari koran yang kita baca, belum televisi, majalah, jurnah, pengajian, pendidikan formal dst. Artinya, sekali lagi, pengetahuan manusia era sekarang, Muslim saat ini, dengan Muslim sebelumnya seharusnya lebih banyak, lebih luas dan beraneka ragam.

Tetapi jika kita melihat realitas sekeliling kita; grafik kejahatan, dari pembunuhan, kekerasan, korupsi dan lain sebagainya, tidak menurun tapi cenderung naik. Kecelakaan lalu lintas, bencana alam, terutama banjir, bukan berkurang tapi bertambah dan terus bertambah.

Apa kaitannya kejahatan dan bencana dengan berbagai kemudahan belajar yang kita miliki? Jelas, sangat jelas berkaitan. Sebab berbagai kejahatan dan bencana itu tidak lepas dari perilaku kita.

Di sini tampak gap yang nyata antara pengetahuan atau ilmu dengan amal yang dilakukan. Ilmu kita banyak, tetapi amal kita terhadap ilmu itu kurang, bahkan nol, atau mungkin lebih parah, minus. Diperintahkan melakukan kebaikan dan dilarang melakukan keburukan, tetapi prakteknya melakukan keburukan dan kurang melaksanakan kebaikan.

Kita saat ini lebih banyak mengunyah, memasukkan berbagai pengetahuan, tetapi dipendam, disimpan, tak diolah menjadi perilaku dan akhlak harian. Kita bisa bayangkan, diri kita seperti orang yang memasukkan apa saja ke mulut. Kita  makan, kita kunyah, tetapi sama sekali tidak kembali keluar menjadi keringat, menjadi energi, atau sekedar keluar sebagai kotoran. Mengunyah dan terus mengunyah, hingga akhirnya menjadi penyakit dan merusak diri kita.

Kita tahu, Islam mengajarkan menyambung silaturrahmi, tetapi faktanya kita bisa saksikan banyak yang memutus silaturahmi, karena kepentingan pribadi atau kelompok, atau bahkan kepentingan politik sesaat.

Kita tahu bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, penyebab banjir, atau lebih luas, berbahaya bagi lingkungan. Tetapi faktanya kita melihat dari rakyat biasa, pejalan kaki hingga yang bermobil mewah buang sampah sembarangan. Buka kaca mobil, dan keluarlah botol minuman atau plastik sampah di jalan.

Kita tahu pembunuhan itu dosa, tapi setiap hari berbagai kasus pembunuhan berulang-ulang terus terjadi. Lagi dan lagi, angka dan beritanya naik dan terus naik.

Kita tahu bahwa polusi berbahaya bagi kesehatan bumi kita. Tetapi tiap saat jutaan kendaraan yang tak ramah lingkungan bertambah dan terus bertambah tanpa hirau akan akibatnya.

Inilah karakter yang oleh Allah disebut layaknya keledai.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allâh tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim” [al-Jumu`ah/62:5]

Ayat ini memberi umpama bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan agama yang banyak, tetapi ia tidak mengamalkannya, layaknya keledai yang mengangkut kitab-kitab dipunggungnya, tidak memberi tambahan manfaat, bahkan memberi beban kepadanya.

Karena itu mari dengan ilmu yang ada kita amalkan. Meski sedikit ilmu, tapi semua diamalkan, jauh lebih baik daripada banyak ilmu tetapi tidak bermanfaat sama sekali. Sebab ilmu tanpa manfaat, tidaklah membawa kebahagiaan, justru sebaliknya menjadi sebab bencana abadi, yang akan dituntut nanti di akhirat. Sebagaimana yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ اَرْبَعٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَه  وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya; apa yang ia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari manakah dia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya, serta tentang raganya; bagaimana ia mempergunakannya”.

Dengan gadget yang kita miliki, smartphone, tablet, dan lain sebagainya menjadi sarana penguat amal kita. Sebab Islam bukan agama dalil belaka, bukan agama ilmu saja, tetapi sesungguhnya ia adalah agama amal, praktek di dalam kehidupan sehari-hari. Satu helaan bersama nafas mukmin, seiring gerak langkah seorang muslim. Wallahu a’lam

Oleh: Fathuri SR

Dirjen Pendis : KSM, Pacu Motivasi Siswa Madrasah Cintai Iptek

On 13.56.00

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan, Kompetisi Sains Madrasah (KSM) merupakan event yang strategis untuk memupuk dan memotivasi motivasi siswa untuk terus mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

“Melalui KSM diharapkan dapat mengembangkan sumber daya manusia yang berkarakter kuat dan kokoh, tahan uji dan memiliki kemampuan yang andal di bidangnya,” ujar Kamaruddin dalam sambutannya dalam pembukaan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2016 di Pontianak, Selasa (23/8).

Selain itu melalui KSM diharapkan dapat melatih siswa untuk meningkatkan daya nalar, kreativitas dan berpikir kritis serta mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kamaruddin juga menyatakan bahwa KSM diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan sains di madrasah secara komprehensif. Hal ini ditandai dengan semakin kuatnya budaya belajar dan budaya penelitian (research) serta motivasi berkompetisi.

Kementerian Agama menggelar Kompetisi Sains Madrasah (KSM) untuk ke-5 kalinya. Ajang Kompetisi siswa di bidang sains ini diselenggarakan di kota khatulistiwa Pontianak Kalimantan Barat. Acara yang juga dimeriahkan dengan kegiatan pameran Expo Madrasah ini resmi dibuka oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin pada Selasa (23/08) siang dengan terlebih dahulu melangsungkan konferensi pers.

Peserta KSM yang berkompetisi di ajang KSM Tingkat Nasional Tahun 2016 ini merupakan peserta KSM yang telah diseleksi di tingkat kabupaten/ kota dan provinsi. Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional Tahun 2016diikuti oleh 865 orang yang terdiri dari 363 orang peserta KSM, 83 orang peserta dari MAN Insan Cendekia, 419 orang pendamping peserta.

Bidang yang dilombakanuntuk tingkat MI/SD, adalah Matematika dan Agama Islam, IPA dan Agama Islam. Untuk tingkat MTs/SMP, ada Matematika dan Agama Islam, Biologi dan Agama Islam serta Fisika dan Agama Islam. Sementara tingkat MA/SMU, ada 6 bidang perlombaan, yakni Matematika dan Agama Islam, Biologi dan Agama Islam, Fisika dan Agama Islam, Kimia dan Agama Islam, Ekonomi dan Agama Islam serta Geogragfi dan Agama Islam. Sedangkan khusus untuk MAN Insan Cendekia dilombakan secara terpisah.

“Semoga para kontingen dapat mengikuti kompetisi dengan baik dan berkomitmen bersama bahwa acara ini harus sukses dengan cara yang sportif, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,” ujar Dirjen Pendis menutup sambutannya. (didah/dm/dm).

5 Siswa MAN IC Aceh Timur  Ikut KSM Tingkat Nasional di Pontianak

On 23.24.00


Sebanyak 5 siswa MAN Insan Cendekia Aceh Timur akan mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional di Pontianak,Kalimantan Barat, 23-27 Agustus 2016. 

Menurut Kepala MAN IC Aceh Timur Shulfan ”siswa-siswa ini akan mempertandingkan 5 bidang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang meliputi Fisika, Biologi, Kimia, Ekonomi, dan Geografi. Siswa-siswa ini di berangkatkan tanggal 22 Agustus dan akan bertanding sampai tanggal 27 Agustus  2016. Jadi kurang lebih selama satu minggu akan mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) di Pontianak. 

“Saya sangat apresiasi dan bangga kepada para siswa MAN IC ini, saya harapkan agar para siswa untuk menjaga kesehatannya agar nanti pada saat lomba bisa lebih fokus. Serta jangan lupa untuk terus berdoa agar dalam kompetisi nanti bisa tenang dan tidak gerogi dalam menghadapi lomba di sana,” ungkap Shulfan.

Disamping itu menurut Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin pada saat pembukaan, “KSM ke-5 kali ini sedikit berbeda, selain diikuti oleh siswa-siswi madrasah, termasuk MAN Insan Cendekia, juga bisa diikuti oleh siswa siswa sekolah yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemenag telah sepakat dengan Kemendikbud, baik KSM yang diselenggarakan oleh Kemenag, maupun Olimpiade Siswa Nasional (OSN) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud, dapat diikuti oleh siswa-siswa, baik dari Kemenag maupun Kemendikbud. Begitu pula lomba-lomba lainnya yang diselenggarakan oleh dua kementerian tersebut”.