Selamat Datang di Website MAN Insan Cendekia Aceh Timur

Pak Guru, Jangan Sembunyi di Belakang LCD Proyektor Dong!

On 11.58.00

Aktivitas Belajar MAN Insan Cendekia Aceh Timur
Alkisah, di suatu SMA Negeri ada seorang orang guru Bahasa Indonesia. Namanya pak Budi. Ia adalah seorang guru muda. Banyak siswa menjadikannya sebagai guru favorit karena selain sifatnya yang ceria, Pak Budi selalu memaafkan teknologi dikelasnya. LCD Proyektor dan sebuah laptop menjadi ‘senjata’nya dikelas. Microsoft PowerPoint™ adalah program andalannya. Slide presentasinya penuh dengan gambar warna-warni dan animasi ala film Star Wars. Sesekali siswanya disuguhkan video dokumenter yang di downloadnya dari Youtube. Diakhiri pelajaran video tersebut akan dibahas, didiskusikan dan didebatkan oleh siswa secara berkelompok.

"Lebih menarik bagi siswa, dan menghemat waktu. Tidak perlu lagi nyatat di papan tulis" kata Pak Budi.

“Siswa jadi lebih lebih aktif dalam belajar, hampir gak ada yang izin ke WC kalau jam pelajaran saya ” sambungnya dengan bangga.

Pelajaran Bahasa Indonesia pun disulapnya menjadi pelajaran yang sangat dinanti siswa tiap minggu. Pak Budi pun naik pamornya di ruang guru. Sering ia pujian dari Kepsek dan sesama rekan guru lainnya.

Suatu pagi di sekolah tersebut listrik padam. Pak Budi kalang kabut mencari generator listrik. Namun, tak jua didapatkannya (karena memang belum diibeli pihak sekolah). Pak Budi akhirnya masuk kelas tanpa senjatanya. Ia harus menggunakan cara Klasik, ceramah sambil mencatat di papan. Siswa yang tadinya semangat lambat laun jadi pasif, tak termotivasi dan cenderung mengantuk. Ternyata pak Budi tak mahir ceramah dikelas. Selama ini ia diselamatkan oleh Proyektor LCD dan laptop. Teknologi telah menggeser fungsinya sebagai guru.  

Kisah pak Budi menjadi pengingat pada bapak ibu guru muda yang memanfaatkan teknologi dalam mengajar. Kita istilahkan saja dengan technology syndrome. Memang tak berdosa ketika kita menggunakannya sebagai penunjang performa mengajar kita. Namun, patut diingat bahwa teknologi hanya alat bantu, teknologi tidak bisa menggantikan sang guru. Ibarat konser gitar tunggal, penonton harus terpukau pada kemampuan gitarisnya bukan pada gitarnya. Ya, siswa harus terpukau karena keterampilan anda mengajar, bukan terpukau karena slide show yang anda tampilkan. Jadi, jangan sembunyi di belakang teknologi. 

Secanggih apa pun teknologi dalam kelas, anda tetap menjadi pendidik, presenter, dan penyaji utama bagi siswa.  

Bagaimana caranya menghindari technology syndrome dikalangan guru muda ? Mudah saja. 

Jadikan tokoh-tokoh dimasa lalu sebagai sumber inspirasi. Bayangkan bagaimana Socrates, Aristotles, Ki hajar Dewantara dan tokoh pendidikan lainnya mengajar. Mereka bisa ceramah berjam-jam, namun tidak membuat pendengarnya bosan. 

Buatlah RPP, Prota, Promes, dan Silabus sendiri, jangan download dari internet. Repot? Tentu saja. Tapi dengan menyusun RPP sendiri, kita jadi tahu tiap tahapan dalam kegiatan mengajar kita. Mana yang awal, inti dan penutupnya. Sehingga pola mengajar terstruktur rapi. 

Mari mengenal siswa-siswi kita. Bukan secara individu, namun secara umum. Setiap kelas biasanya mempunyai satu karakter yang menonjol. Ini hanya akan nampak ketika anda punya minat pribadi ketika mengajar mereka. Jika sudah tahu karakter kelas, anda dapat menentukan metode mengajar yang sesuai.

Latih diri mengajar tanpa teknologi. Walaupun anda seorang yang menguasai teknologi, sekolah mempunyai fasilitas yang mendukung, cobalah untuk tidak menggunakannya sesekali. Lalu, diakhir pelajaran lihat dampak pada siswa. Apakah mereka merasa tergugah, tersentuh, termotivasi. Jika belum, tingkatkan mutu mengajar anda. There's no shortcut, practice makes perfect. Sehingga dalam situasi emergency (mati lampu) sekalipun, kita siap mengajar dengan gaya klasik namun tetap asik. 

Tentu saja masih banyak cara lain yang bisa anda lakukan untuk menghindari technology syndrome ini. 

Sumber: Dio Sinaba
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »